Impian Manusia Hidup Selamanya



Penghitungan angka harapan hidup dari Departemen Sosial dan Ekonomi PBB membuktikan tiap periode tahunnya terjadi peningkatan usia. Temuan ini menyisakan sebuah kemungkinan bahwa usia rata-rata manusia dapat menembus ke angka ratusan, ribuan, bahkan tak terhingga. Tentu saja, dibutuhkan jutaan hingga miliaran tahun untuk mencapainya.
Adanya kemungkinan inilah yang kemudian menggerakkan manusia untuk mewujudkan mimpi hidup selamanya. Dengan kemampuan akal budi dan teknologi, kemungkinan tersebut mungkin saja dapat terpenuhi tanpa harus membutuhkan waktu yang sangat lama.
Kehidupan abadi inilah yang menjadi mimpi dan ambisi Dmitry Itskov, pria kaya raya asal Rusia. Dalam wawancara eksklusif New York Times pada 1 Juni 2013, Itskov menyatakan bahwa dirinya tidak main-main terhadap idenya yang bernama Neohumanity itu. Kendati ia sering kali dianggap gila, proyeknya tetap berjalan dan ditargetkan selesai pada 2045.
Secara garis besar, gagasannya sederhana, yakni mentransfer personalitas individu ke tubuh buatan. Personalitas individu yang dimaksud meliputi seluruh unsur baik pikiran, emosi, ataupun karakter individu tersebut. Semua ini memungkinkan individu melanjutkan kehidupan normalnya setelah tubuh biologisnya tidak lagi berfungsi. Dengan itu, terwujudlah individu yang hidup selamanya.
Ambisi Itskov tidak dapat dianggap remeh. Sejak 2013 lalu, ia mengadakan pertemuan internasional bernama Global Future 2045. Pertemuan bertajuk ”Menuju Strategi Baru untuk Evolusi Manusia” itu mempertemukan banyak ilmuwan, ahli terapeutik, ahli neurologis, hingga ahli spiritual.
Di kanal Youtube, salah satu ilmuwan bernama Ray Kurzweil menceritakan secara singkat proyek keabadian manusia itu. Dalam video berdurasi kurang dari 4 menit, ia menjelaskan bahwa kehidupan kedua” dapat dialami manusia melalui avatar individu tersebut. Avatar ini diciptakan dengan teknologi mutakhir yang akan memaksimalkan fungsi otak manusia sebagaimana mestinya.
Sejauh ini, Ray Kurzweil sudah menyatakan kemajuan proyek ini dengan terciptanya tangan bebionic. Seperti di film Robocop, seorang sukarelawan yang tangan kirinya telah diamputasi menggunakan tangan replika ini dan mengaku berhasil. Tangan replika ini diklaim telah menggantikan fungsi tangan alaminya dengan bantuan kecerdasan buatan.
Rupanya, Itskov bukanlah satu-satunya triliuner yang mencita-citakan kehidupan abadi. Di California, ada lembaga Unity Biotechnology yang didirikan oleh Jeff Bezos (pendiri Amazon) dan Peter Thiel.
Tak mau kalah, Sergey Brin dan Larry Page (keduanya dari Google) mendirikan Calico yang diklaim nantinya dapat mengendalikan usia rentang hidup manusia. Masih ada lagi, yakni Aubrey de Gray (pendiri SENS Research Foundation) yang aktif memberikan ceramah dan publikasi terkait kehidupan abadi.
Gagasan futuristik ini mendulang pro dan kontra di masyarakat. Arram Sabeti, seorang pendiri perusahaan teknologi, mengatakan kepada majalah The New Yorker bahwa proyek untuk membuat manusia hidup abadi tidaklah bertentangan dengan hukum dan ilmu fisika. Di sisi lain, muncul juga opini bahwa memperpanjang usia juga berarti memunculkan rentetan masalah-masalah lainnya, antara lain kelebihan populasi.
Konsekuensi logis
Jika nantinya impian manusia dapat memperpanjang usia atau hidup abadi terwujud, akan ada sejumlah konsekuensi logis. Salah satu konsekuensi itu ialah persoalan demografi penduduk yang menumpuk di usia tua. Contoh atas persoalan ini dapat dilihat dari fenomena yang saat ini sedang dihadapi oleh Jepang.
Tren populasi penduduk Jepang saat ini dan tahun-tahun berikutnya sedang mengarah pada penumpukan penduduk usia tua. Pendorongnya ialah semakin sedikitnya penduduk yang menikah dan memiliki keturunan. Alasannya, kebutuhan hidup yang semakin sulit terpenuhi dan memiliki keturunan menjadi beban di kemudian hari.
Imbasnya, proporsi penduduk yang menua menjadi semakin banyak. Merujuk pada data kependudukan Jepang, proporsi penduduk berusia tua (65 tahun ke atas) di 2017 mencapai 27,6 persen atau tertinggi di seluruh dunia. Perkiraannya, di 2065 angka tersebut naik menjadi 38,4 persen dari total penduduk Jepang.
Tantangan paling nyata akibat ini adalah sektor ekonomi Jepang. Penduduk yang berusia produktif menjadi semakin sedikit. Penduduk yang sudah menua terpaksa melanjutkan pekerjaan dengan produktivitas yang sudah menurun. Pola ini menjadi hambatan untuk memacu produktivitas industri atau pelaku usaha.
Lalu pada Desember 2018 lalu, Pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan imigrasi yang baru. Intinya, pintu imigrasi semakin terbuka lebar bagi para imigran yang mau bekerja di sana. Meski demikian, masalah lainnya pun bermunculan, seperti persaingan lapangan pekerjaan dan penetrasi budaya asing.
Persoalan yang dihadapi Jepang hanyalah salah satu contoh atas konsekuensi logis bertambah panjangnya usia manusia. Masih banyak konsekuensi lainnya bila proyek tersebut terwujud. Misalnya, penduduk dunia semakin padat, sumber daya alam menipis, siklus rantai makanan menjadi kacau, juga peperangan antarnegara dapat terulang kembali.
Di sisi lain, muncul juga opini bahwa memperpanjang usia juga berarti memunculkan rentetan masalah-masalah lainnya, antara lain kelebihan populasi.
Untuk mengantisipasi segudang masalah itu, menciptakan tempat tinggal manusia di planet lain tentu bukanlah solusi. Ide gila lainnya ini sudah dirancang National Aeronautics and Space Administration (NASA) sejak pertengahan 1970 silam. Melalui proyek bernama Kalpana One, NASA mencoba menargetkan pemukiman bagi 3.000 orang di planet lain.
Dengan kata lain, impian manusia untuk hidup selamanya justru menyisakan banyak pertanyaan selanjutnya.  Meski nantinya impian ini akan terwujud berjuta-juta tahun kemudian, tentu seharusnya manusia sudah dapat menyediakan jawaban atas konsekuensi logis keabadian hidup.
Menuju kematian
Hingga saat ini, ide kehidupan abadi hanya dapat ditemukan dalam berbagai karya seni, seperti novel ataupun film. Tak jarang, pertanyaan reflektif tentang kehidupan justru disampaikan melalui media seni tersebut. Misalnya adegan Q Lesson” dalam film Star Trek.
Dalam adegan tersebut, diceritakan seseorang yang berasal dari suku Q” dan merasakan kehidupan abadi. Ketika ditanya resep hidup abadi, dia justru berbalik menanyakan apa gunanya hidup abadi? Kehidupan telah menjadi menjenuhkan karena ia telah melakukan, melihat, dan merasakan semuanya.
Bagaimanapun juga, kematian adalah suatu keniscayaan bagi manusia. Dalam buku Heidegger dan Mistik Keseharian (2003)Budi Hardiman menjelaskan konsep kematian dari sudut pandang filsuf ternama, Martin Heidegger (1917-1976). Menurut Heidegger, kematian akan selalu ada dalam hidup manusia.
Dengan gagasan Sein-zum-Tode” (ada-menuju-kematian), manusia senantiasa berhadapan dengan kematian selama rentang hidupnya. Kematian menjadi momen paling otentik dan eksistensial bagi manusia.
Sebabnya, tidak ada seorang pun yang dapat mewakilkan kematian orang lain. Memang, ada orang yang mati demi orang lain, seperti tentara yang merelakan nyawa bagi bangsanya, tetapi itulah momen kematian dirinya, bukan orang lain.
Konsep kematian dari Heidegger mengajak manusia untuk merefleksikan kembali hidupnya. Perkaranya bukan lagi panjang-pendek usia hidup atau memperoleh hidup abadi. Justru yang lebih penting ialah bagaimana manusia mengisi dan memaknai kehidupannya. La vita √® bella! (Litbang Kompas)

Comments