Sastra Siber Jadi Tonggak Baru Dunia Sastra Indonesia?

 

Sastra siber tonggak baru kehadiran dunia sastra yang tak mengenal ruang, waktu, bahasa, bahkan melintasi batas-batas negara. (Foto: freepik/lookstudio)

SASTRA Indonesia telah berkembang di Indonesia sejak sebelum abad ke-20. Sastra Indonesia adalah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah dari Sastra Indonesia merujuk pada kesusastraan dalam bahasa Indonesia yang bahasa akarnya berdasar pada bahasa Melayu.

Berkembangnya akses internet ikut mempengaruhi perkembangan sastra karena pada akhirnya menjadi sebuah kebutuhan masyarakat. Istilah sastra digital sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari munculnya sastra siber pada awal tahun 2000-an.

Pemula dapat mengunggah sendiri karya-karya mereka di akun media sosial yang mereka miliki. (Foto: freepik/rawpixels)

Dirangkum dari rezasukmanugraha dan jatengdaily, di tahun itulah budaya internet mulai merasuk di kalangan sastrawan kita, terutama generasi muda. Muncullah apa yang dinamakan 'sastra siber' dan mulai menembus tembok-tembok sastra yang selama ini terasa asing bagi para pemula.

Para pemula tidak perlu gelisah ketika karya mereka tidak bisa dimuat di koran atau majalah, karena perkembangan teknologi informasi memungkinkan mengunggah sendiri karya-karya mereka di akun media sosial yang mereka miliki. Baik melalui facebook, twitter, whatsapp, steller, maupun instagram. 'Keangkuhan' para redaktur kebudayaan media cetak tidak ada artinya lagi bagi mereka.

Masalah yang belum dapat ‘dituntaskan’ oleh para kritikus sastra adalah di mana posisi sastra siber dalam aneka ragam genre sastra? Terkait dengan kualitas karya yang dihasilkan pegiat sastra siber. Kualitas karya sastra siber dituding tidak sejajar dengan karya sastra hasil para sastrawan atau penulis kenamaan. Tentunya para penulis kenamaan itu karyanya mendapatkan label ‘sastra adiluhung’ atau ‘sastra populer’ yang laku di pasaran.

Namun sastra siber sesungguhnya merupakan alternatif baru bagi para pemula yang kurang mendapatkan tempat di media cetak. Kriteria-kriteria yang ditetapkan pada redaktur sastra tak selalu bisa mereka penuhi, sehingga sastra siber menjadi wadah penyalur bagi aktivitas dan kreativitas mereka. Ia merupakan tonggak baru kehadiran dunia sastra yang tak mengenal ruang, waktu, bahasa, bahkan melintasi batas-batas negara.

Pengakuan atas kualitas karya seseorang tidak lagi hanya dengan mampunya seseorang memajang karyanya secara prestisius di halaman sastra pada media massa atau majalah sastra. Saat ini, setiap orang dapat menulis dan membaca sastra sehingga satu mereka pun berhak memberi penilaian (kritik) atas karya yang mereka baca.

Baik buruknya kualitas sebuah karya sastra hanya dapat dijawab oleh waktu. Namun, kritik sastra yang berbobot disertai pengetahuan sastra yang mumpuni tetap diperlukan untuk menilai karya tersebut.

Perdebatan mengenai mutu sastra siber wajar terjadi. Sayangnya sejumlah pengamat sastra bahkan menyebut teks-teks sastra siber itu sebagai karya 'sampah'. Sifatnya yang instan, terpublikasikan dengan mudah tanpa melalui seleksi redaktur, karya-karya para pegiat sastra siber dianggap tidak patut disebut sebagai karya sastra.

Sastra siber merupakan alternatif baru bagi para pemula yang kurang mendapatkan tempat di media cetak. (Foto: freepik/jcomp)

Namun, editor dan kurator sastra Saut Situmorang justru berpendapat bahwa sastra siber melahirkan sastrawan yang diciptakan dunia digital. Semua orang akan lebih kreatif apabila punya kesempatan menuangkan ide, pendapat dan hasil pemikiran sesuai zaman yang sudah berubah.

Sesungguhnya perbedaan antara sastra cetak dan sastra siber itu hanya pada penggunaan medianya saja. Ukuran atau kriteria yang ditetapkan sebagai barometer sastra itu sama. Masalahnya, sastra siber tidak mengenal redaktur atau editor yang berhak meloloskan karyanya atau tidak. Bukan tidak mungkin kita menemukan teks-teks yang berkualitas dalam sastra siber, bahkan melebihi karya-karya yang dimuat di media cetak.

Pada sastra siber para pembacanya bisa langsung memberikan penilaian dan komentar terhadap teks atau karya yang diunggah. Selain itu, dalam sastra siber memungkinkan para pegiatnya mengunggah karya dalam bentuk audio-visual.

Saat berbicara tentang sastra siber maka muncul soal penggunaan bahasa Indonesia. Karena sering kita temukan teks-teks yang mereka unggah tidak memakai kaidah baku dalam bahasa Indonesia. Dalam sastra siber sering memuat akronim, simbol emosikon dengan kalimat singkat. Hal inilah yang harus menjadikan perhatian para sastrawan, terutama berkaitan dengan upaya pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia.

Perkembangan teknologi informasi di era digital merupakan kenyataan yang niscaya dan tak dapat dielakkan kehadirannya. Sastra siber memungkinkan para sastrawan untuk mengolah kreativitasnya secara lebih maksimal, bahkan dengan secara auditif dan visual. Sastra siber harus diperlakukan dengan adil.

Sastra siber tidak dapat dipungkiri menjadi bagian dari sejarah sastra Indonesia. Keberadaannya merupakan reaksi positif dunia sastra dalam menyongsong kemajuan teknologi. Media internet dan teknologi informatika lainnya hendaknya menjadi media yang dapat digunakan dalam berkarya dan mengenalkan sastra kepada masyarakat luas.

Ini tantangan bagi para akademisi sastra dalam meningkatkan keilmuan dan pengetahuan di bidang sastra untuk memberikan sumbangan pemikiran terhadap karya-karya sastra siber. Apapun pandangannya sastra siber merupakan tantangan para pegiatnya untuk lebih meningkatkan kualitas karya-karya mereka. (DGS)

Sumber : https://merahputih.com/post/read/sastra-siber-jadi-tonggak-baru-dunia-sastra-indonesia

Comments