IKN: Akan Jadi Kota Paling Ramah Lingkungan atau Merusak Lingkungan?




IKN: Akan Jadi Kota Paling Ramah Lingkungan atau Merusak Lingkungan?

 Seperti yang telah kita ketahui bahwa Presiden Joko Widodo mengumumkan rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan. Alasan mengapa ibu kota Indonesia harus dipindah karena beban di pulau Jawa khususnya kota Jakarta sudah terlalu padat. Selain itu, alasan lainnya yaitu untuk mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh Indonesia khususnya di kawasan sebelah timur Indonesia.

Pemindahan ibu kota negara sendiri sebenarnya sudah dicanangkan sejak periode Presiden Soekarno, tetapi baru direalisasikan oleh Presiden Jokowi. Pemilihan daerah di Kalimantan sebagai ibu kota memiliki beberapa alasan yaitu lokasi yang aman serta minim bencana alam seperti banjir, longsor, gempa, serta minimnya konflik sosial sehingga wilayah ini dinilai strategis untuk dijadikan sebagai ibu kota.

Pemindahan ibu kota tidak hanya memindahkan pusat pemerintahannya saja, tetapi juga akan dibangun dengan konsep smart city dan sustainable dengan berlandaskan 8 prinsip yaitu; (1) mendesain sesuai kondisi alam, (2) Bhinneka Tunggal Ika, (3) terhubung, aktif, dan mudah diakses, (4) rendah emisi karbon, (5) sirkuler dan tangguh, (6) aman dan terjangkau, (7) kenyamanan dan efisiensi melalui teknologi, dan (8) peluang ekonomi untuk semua. Pembangunan IKN akan dikembangkan menggunakan konsep forest city yang dimana akan berdampingan dengan alam. IKN memiliki 3 tujuan utama yaitu simbol identitas nasional, kota berkelanjutan di dunia dan penggerak ekonomi masa depan.

Pemindahan ibu kota akan dilakukan dalam 4 tahap yang dimulai dari tahun 2022 dan rencananya akan selesai pada 2045 mendatang. Tahap pertama (2022 - 2024) akan dilakukan pembangunan perkotaan, infrastruktur, serta ekonomi. Rencananya pula perayaan HUT ke-79 RI pada 17 Agustus 2024 dapat dilaksanakan di IKN. Tahap kedua (2025 - 2035) akan dilakukan pembangunan pusat-pusat penelitian dan pusat-pusat perekonomian untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi, dengan menekankan prinsip pembangunan yang berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Tahap ketiga (2035 - 2045) akan dilakukan pembangunan infrastruktur dan ekosistem di 3 kota yaitu Nusantara, Samarinda dan Balikpapan. Tahap keempat (2045 - selanjutnya) IKN diharapkan dapat mendapatkan reputasi global menuju visi Indonesia 2045 “Kota Dunia untuk Semua” dengan menggunakan 100% energi terbarukan sehingga dapat mencapai net zero-carbon emission, serta menjadi kota dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa didalamnya.

Dengan Konsep “Smart City” IKN akan menciptakan transportasi yang modern dan ramah lingkungan. Transportasi umum yang digunakan akan berbasis listrik dan dilengkapi juga dengan fasilitas pendukung yaitu halte atau shelter dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang berfungsi layaknya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sekarang. Transportasi berbasis rel dalam kota atau MRT dan kereta cepat juga akan dibangun untuk menghubungkan IKN dengan wilayah sekitarnya. Transportasi Urban Air Mobility (Sky Taxi) dan Autonomous Vehicle juga sedang dalam tahap pengembangan yang rencananya akan diuji coba pada tahun 2024.
Kalimantan sebagai paru-paru dunia dan hutan hujan tropis di dunia menjadi pertimbangan untuk dijadikan sebagai ibu kota. Keanekaragaman flora dan fauna endemik serta kehidupan masyarakat adat, apakah akan hilang dan dibiarkan begitu saja? Apakah eksistensi Kalimantan sebagai paru-paru dunia akan terancam?
Hal-hal tersebut menjadi keresahan masyarakat mengingat lebih dari setengah wilayah sekitar pembangunan untuk IKN adalah hutan. Berkurangnya kawasan hutan Kalimantan akibat deforestasi hutan atau alih fungsi hutan juga menjadi kekhawatiran masyarakat. Meskipun pembangunan IKN dipastikan tidak akan merusak lingkungan, bahkan akan menciptakan hutan hujan tropis yang baru—sehingga nantinya 70% areanya adalah kawasan hijau. Lalu 30% sisanya dialihfungsikan untuk pembangunan seperti infrastruktur, yang dimana pasti ada bentuk perubahan wilayah hutan Kalimantan. Ketika hutan itu sudah rusak dan beralih fungsi, untuk kembali menghutankan kembali bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang harus sangat diperhatikan oleh pemerintah.
Meskipun begitu, hal tersebut ternyata sudah dipikirkan oleh pemerintah sejak awal. Pemerintah berkomitmen bahwa pembangunan kota yang dibangun di antara hutan itu tidak akan merusak lingkungan karena area yang digunakan bukan area hutan alam melainkan hutan produksi. Ditambah lagi dengan konsep Environmental City, Green City dan Smart City yang dimana jalan akan dibangun beberapa meter dibawah tanah sehingga menjadikan kawasan tersebut menjadi “Kota Hijau yang Modern”. Beberapa hutan-hutan yang ada (salah satunya Eukaliptus) akan tetap dipertahankan dan akan ditambah dengan jenis lainnya, sehingga secara tidak langsung kawasan tersebut akan tetap mempertahankan title “Paru-paru Dunia” dengan mengadopsi konsep Green City dan didesain memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) lebih dari 50% yang mana lebih besar dibandingkan kota-kota lainnya.

Pemindahan Ibu Kota Negara tidak hanya memindahkan bangunan secara “fisik” saja, melainkan juga akan dibangun menjadi kota yang modern, pintar serta ramah lingkungan. Perencanaan tata ruang kota yang terintegrasi, ecofriendly dan pemanfaatan teknologi didalamnya adalah salah satu tahap kemajuan bagi Indonesia. Terlebih lagi, IKN di tahun 2045 akan terlihat seperti kota modern pada film “Doraemon Stand by Me” dimana terlihat tata ruang kota yang futuristik, modern dan mengandalkan teknologi—dengan banyaknya ruang terbuka hijau yang tidak hanya berada di atas tanah, tapi juga berada di atas gedung serta adanya kendaraan terbang dan bebas emisi. Diharapkan IKN nantinya akan menciptakan peluang baru bagi ekonomi dan sumber daya di Indonesia melebihi Jakarta saat ini.

zoom-in-whitePerbesarKalimantan sebagai paru-paru dunia dan hutan hujan tropis di dunia menjadi pertimbangan untuk dijadikan sebagai ibu kota. Keanekaragaman flora dan fauna endemik serta kehidupan masyarakat adat, apakah akan hilang dan dibiarkan begitu saja? Apakah eksistensi Kalimantan sebagai paru-paru dunia akan terancam?
IKN: Akan Jadi Kota Paling Ramah Lingkungan atau Merusak Lingkungan? IKN: Akan Jadi Kota Paling Ramah Lingkungan atau Merusak Lingkungan? Reviewed by zahrapkl on January 11, 2024 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.