Demokratisasi AI dan Privasi


 

Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas. Dengan melibatkan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan khusus dalam pengembangannya, demokratisasi AI memberdayakan berbagai hal terkait penggunaan.

Inklusi yang lebih besar ini juga memungkinkan pengembangan AI menjadi lebih cermat, sehingga mendorong inovasi yang berpusat pada manusia dan mencegah pemusatan kekuasaan. Sederhananya, sudut pandang yang lebih beragam memudahkan pembangunan yang didasarkan pada etika dan membantu mengatasi bias. 

Secara nyata, hal ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, namun juga memberdayakan usaha skala kecil yang mungkin sedang mengalami kebuntuan. Selain itu, demokratisasi AI juga membantu memitigasi kekurangan tenaga kerja serta meningkatkan produktivitas dengan memberikan akses ke fungsi AI kepada tiap pekerja.

Pada akhirnya, demokratisasi AI memastikan distribusi manfaat yang seimbang, sehingga mencegah kesenjangan digital dan memaksimalkan dampak sosial yang positif. 

Komitmen Zoho dalam memberdayakan bisnis melalui demokratisasi AI adalah mendemokratisasi AI melalui semua produk dalam rangkaian produknya. Zia, asisten AI dari Zoho untuk bisnis, kini terhubung dengan OpenAI sehingga memungkinkan teknologi AI generatif dapat diakses dalam solusi mulai dari analitik hingga alat-alat produktivitas, CRM dan bahkan dalam produk seperti alat pengembangan low-code, Zoho Creator. Dengan Zia, pengguna dapat mengakses AI generatif langsung dari aplikasi apa pun yang mereka gunakan tanpa harus bergantung pada pihak ketiga, sehingga memungkinkan meningkatnya efisiensi dan yang lebih penting adalah memastikan privasi data. 

Ini hanya beberapa cara penting yang dilakukan Zoho agar kemampuan AI dapat diakses secara universal meskipun mungkin ada perusahaan yang kekurangan pengetahuan khusus.

Melalui penekanan pada sumber daya yang mudah digunakan, Zoho selalu berupaya memberikan kontribusi signifikan pada demokratisasi AI yang lebih luas guna menumbuhkan lingkungan bisnis yang lebih inklusif dan berdaya. 

Solusi Zoho mengatasi risiko pelanggaran privasi dalam menggunakan AI. Bagi bisnis yang ingin memanfaatkan sepenuhnya kemampuan AI generatif dengan Zia, Zoho memberikan kesempatan bagi mereka untuk memasukkan kunci OpenAI khusus mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa data yang digunakan dalam fungsi obrolan generatif tetap berada dalam perusahaan dan tidak dibagikan ke publik. Ini merupakan komitmen Zoho guna melindungi pelanggan dan memberikan mereka nilai yang lebih tinggi.

Oleh sebab itu teknologi AI Zoho mengutamakan perlindungan informasi rahasia. Zoho juga menolak model pendapatan iklan dan mempertahankan kepemilikan penuh serta kendali atas pusat datanya untuk pengawasan menyeluruh terhadap data pelanggan, privasi, dan keamanan. Inilah alasan Zoho menjadi penyedia software bisnis bagi lebih dari 100 juta pengguna di seluruh dunia, yang mencakup ratusan ribu perusahaan. Ini karena cara Zoho menjaga integritas dan privasi datanya sendiri merupakan komitmen yang sama yang diberikan perusahaan kepada pelanggan dan mitranya.

Upaya ke depan untuk mencegah risiko-risiko tersebut agar tetap waspada adalah mengatasi tantangan terkait AI secara efektif bergantung pada penggunaan pendekatan dari banyak segi. Kerangka tata kelola yang kuat merupakan suatu keharusan dan harus mencakup penetapan kebijakan dan prosedur yang jelas bagi pengembangan, penerapan, dan pemantauan aplikasi AI.

Dunia usaha perlu menetapkan peran dan tanggung jawab, menegakkan pedoman etika, serta memastikan kepatuhan terhadap aturan-aturan terkait. Audit dan penilaian berkala terhadap sistem AI sangat penting untuk mengidentifikasi kerentanan dan area yang perlu ditingkatkan.

Lalu, terdapat pertimbangan etis, di mana penting sekali bahwa model AI dan algoritma harus adil, transparan, dan akuntabel. Hal ini melibatkan penanganan bias secara aktif dan memastikan bahwa proses pengambilan keputusan dapat dijelaskan dan dimengerti.

Dengan memasukkan prinsip-prinsip etika ke dalam siklus pengembangan, risiko munculnya konsekuensi yang tidak diharapkan dapat dikurangi, sehingga meningkatkan kepercayaan antara pengguna dan pemangku kepentingan. 

Jangan lupakan juga peran yang dimainkan orang-orang di sini. Para pemimpin perusahaan harus mengenali secara jelas apa yang akan mereka demokratisasi dan siapa penggunanya. Hal tersebut akan membantu menginformasikan pelatihan sehingga masyarakat mendapatkan pendidikan komprehensif untuk memanfaatkan AI.

Para pemimpin harus mempertimbangkan bagaimana tim dapat lebih memahami pertimbangan etis, potensi bias, dan cara menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Hal ini tidak hanya membantu orang-orang di seluruh organisasi dalam mengambil keputusan yang tepat, namun juga merupakan pendekatan proaktif yang membekali mereka untuk mengatasi risiko secara efektif. Selain itu, mempertahankan fokus yang kuat pada perlindungan privasi pengguna merupakan hal mendasar.

Menerapkan kebijakan privasi yang kuat, memperoleh persetujuan berdasarkan informasi, dan mengadopsi teknologi yang menjaga privasi berkontribusi dalam membangun kepercayaan pengguna dan memitigasi risiko terkait privasi.[]

sumber : https://cyberthreat.id/read/16475/Demokratisasi-AI-dan-Privasi

Comments