Kaum Perempuan Indonesia Didorong Berperan di Bidang Keamanan Siber


 

Meskipun jumlah perempuan hampir mencapai setengah dari populasi global, namun hanya 25% perempuan yang bekerja di bidang keamanan siber. Fenomena tersebut menegaskan bahwa meskipun ada kemajuan signifikan yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir, ternyata masih banyak hal yang perlu dicapai untuk mencapai kesetaraan di antara semua gender dalam industri ini. Ada beberapa alasan yang menyebabkan kesenjangan ini, baik di bidang keamanan siber lokal maupun di angkatan kerja Indonesia secara umum. Faktor utamanya adalah kesenjangan upah berdasarkan gender, dimana perempuan mendapatkan penghasilan 23% lebih rendah dibandingkan laki-laki dengan kualifikasi serupa.

Deepa Kuppuswamy, Direktur Keamanan Manage Engine, berpendapat bias lainnya terjadi dalam proses perekrutan dan kebijakan organisasi, yang mungkin dilakukan oleh para pengambil keputusan tanpa menyadari adanya bias tersebut dan dampak diskriminatifnya. Menurutnya terdapat hambatan yang masih perlu dipahami oleh pemimpin perusahaan jika perempuan berperan dalam dunia keamanan siber, hambatan ini tidak hanya berkutat masalah gender. “Apa yang tidak disadari oleh para pemimpin dunia usaha adalah hambatan-hambatan bagi perempuan untuk memasuki sektor keamanan siber bukan hanya masalah gender ketika dunia usaha bergulat dengan kesenjangan bakat” ujar Deepa pada pekan lalu.

Deepa menyebutkan data di Asia Pasifik saja, terdapat 2.6 juta posisi yang belum terisi di bidang keamanan siber. Ditambah dengan meningkatnya serangan siber, dunia usaha menghadapi tantangan kurangnya para profesional keamanan siber. Dengan kata lain, keberagaman gender, khususnya yang berkaitan dengan pekerja profesional keamanan siber, bukanlah semata tentang mempekerjakan lebih banyak perempuan. Lebih dari itu, keberaga-man gender membantu dunia usaha mendorong ketahanan siber.

Deepa menyampaikan, perempuan menyumbangkan beragam pengalaman dan keahlian teknis yang memperkaya dinamika tim dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Memiliki perspektif yang beragam dalam tim juga menghasilkan proses pengambilan keputusan yang lebih baik dan, pada akhirnya, meningkatkan kinerja. Dalam sebuah penelitian tentang pengaruh keragaman terhadap efektivitas tim keamanan siber, sebanyak 35 tim dilibatkan dan ditugaskan untuk mengatasi serangkaian tantangan keamanan dalam suasana seperti permainan. Tim-tim tersebut dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni tim heterogen, yang mencakup anggota dari semua gender, dan tim homogen yang hanya terdiri dari laki-laki.

sumber :  https://swa.co.id/read/446871/kaum-perempuan-indonesia-didorong-berperan-di-bidang-keamanan-siber

Comments